![]() |
| Foto: Waton Bunga Retu |
RIANGKEMIE – Perjalanan sejarah Paroki St. Yoseph Riangkemie bukanlah kisah yang selalu berjalan mulus. Di balik pertumbuhan dan pelayanannya saat ini, tersimpan sebuah periode penuh tantangan yang menguji keteguhan iman umat. Masa kevakuman yang terjadi pada pertengahan dekade 1980-an menjadi salah satu babak penting dalam sejarah paroki yang hingga kini masih dikenang.
Kevakuman itu bermula pada tahun 1985 ketika Pastor Paroki saat itu, Pater Tom Cahill, SVD, dipindahtugaskan kembali ke negara asalnya, Irlandia. Kepergian beliau meninggalkan kekosongan kepemimpinan pastoral di Paroki St. Yoseph Riangkemie. Demi memastikan pelayanan sakramen tetap berjalan, Keuskupan melakukan restrukturisasi sementara dengan membagi stasi-stasi di bawah Paroki Riangkemie ke dua paroki tetangga.
Stasi Watowiti, Mudakeputu, Waimana I, Waimana II, dan Welo berada di bawah pelayanan Paroki Katedral Reinha Rosari Larantuka. Sementara itu, Stasi Wailolong dan Lewoloba dilayani oleh Paroki St. Ignasius Waibalun.
Pembagian tersebut memang menjadi solusi pastoral, namun di sisi lain menghadirkan kerinduan mendalam bagi umat untuk kembali berhimpun sebagai satu keluarga besar dalam Paroki St. Yoseph Riangkemie. Selama beberapa tahun, identitas paroki seolah berada dalam masa penantian untuk kembali dipulihkan.
Harapan itu akhirnya datang pada tahun 1988. Uskup Larantuka saat itu, Mgr. Darius Nggawa, SVD, mengutus seorang imam diosesan Keuskupan Larantuka, Romo Dominikus Luro Kelen, Pr, yang ditahbiskan pada 27 Juni 1981, untuk menjalankan tugas sebagai Pastor Asistensi.
Tugas yang diemban Romo Dominikus bukanlah tugas ringan. Beliau dipercaya untuk menyatukan kembali stasi-stasi yang selama masa kevakuman berada di bawah pelayanan paroki lain sekaligus membangun kembali semangat persaudaraan umat. Dengan ketekunan, kesabaran, dan jiwa seorang gembala, Romo Dominikus perlahan berhasil mengembalikan keutuhan Paroki St. Yoseph Riangkemie.
Keberhasilan tersebut menjadi bukti dedikasi dan kepemimpinannya. Atas karya pelayanannya, beliau kemudian dipercaya menjadi Pastor Paroki St. Yoseph Riangkemie dan memimpin umat hingga tahun 1990. Setelah itu, beliau kembali ditarik oleh Keuskupan Larantuka dan tongkat estafet kepemimpinan diserahkan kepada Pater Marianus Sila, SVD.
Rentang waktu 1985 hingga 1990 menjadi periode yang sarat dinamika dalam sejarah Gereja di Lewo Tana Baipito. Masa itu bukan sekadar cerita tentang kevakuman administratif, melainkan kisah tentang ketangguhan iman umat yang tetap bertahan dalam berbagai keterbatasan, hingga akhirnya kembali dipersatukan dalam satu paroki.
Jejak pelayanan Romo Dominikus Luro Kelen, Pr menjadi bagian penting dari sejarah Paroki St. Yoseph Riangkemie. Berkat dedikasi dan kerja pastoralnya, paroki yang sempat terpecah dapat kembali berdiri utuh dan melanjutkan misinya sebagai pusat kehidupan iman umat.
Sejarah ini menjadi pengingat bahwa Gereja tidak hanya dibangun oleh gedung-gedung megah, tetapi juga oleh pengorbanan para gembala dan kesetiaan umat yang tetap menjaga iman di tengah berbagai tantangan zaman.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar