Kalender Liturgi

Kamis, 25 Juni 2026

Mengenang P. Jan Krol, SVD: Misionaris yang Menjadikan Baipito Rumah Kedua

Foto: Waton Bunga Retu
Ada orang-orang yang datang ke suatu tempat untuk berkarya, lalu pergi ketika tugasnya selesai. Namun ada pula mereka yang datang untuk mengabdikan hidupnya, menanamkan kasih, dan meninggalkan jejak yang tetap hidup jauh setelah mereka tiada.
Salah satu di antaranya adalah Pater Jan Krol, SVD, misionaris asal Belanda yang namanya tidak dapat dipisahkan dari sejarah awal Paroki St. Yoseph Riangkemie dan perkembangan Gereja Katolik di wilayah Baipito.
Dari sebuah negeri yang jauh di Eropa, ia meninggalkan kampung halamannya untuk menempuh perjalanan panjang menuju Nusantara. Tujuannya sederhana, tetapi mulia: melayani umat dan mewartakan Injil.
Pater Jan Krol lahir pada 13 April 1906. Panggilan hidup membawanya bergabung dengan Serikat Sabda Allah (SVD). Setelah menjalani masa pendidikan dan pembinaan, ia ditahbiskan menjadi imam pada 31 Januari 1932 di Teteringen, Belanda.
Tidak lama setelah tahbisan, ia menerima tugas perutusan ke Hindia Belanda, wilayah yang kini dikenal sebagai Indonesia. Pada masa itu, perjalanan menuju tanah misi bukanlah perkara mudah. Berbulan-bulan menempuh lautan dan meninggalkan keluarga menjadi bagian dari pengorbanan yang harus diterima para misionaris.
Namun bagi Pater Jan Krol, panggilan pelayanan lebih besar daripada jarak yang memisahkannya dari tanah kelahiran.
Perjalanan panjang itu akhirnya membawanya ke Flores, pulau yang kemudian menjadi tempat pengabdian sepanjang hidupnya. Di sinilah ia menemukan umat yang akan ditemaninya selama puluhan tahun, berbagi suka dan duka, serta membangun fondasi Gereja yang kokoh bagi generasi-generasi berikutnya.
Tahun 1940 menjadi tonggak penting dalam sejarah Gereja lokal ketika Paroki St. Yoseph Riangkemie resmi didirikan. Pada saat itulah Pater Jan Krol dipercaya menjadi pastor paroki pertama.
Masa itu bukanlah zaman yang mudah. Sarana transportasi terbatas, komunikasi sulit, dan fasilitas pelayanan pastoral jauh dari memadai. Namun segala keterbatasan tersebut tidak menyurutkan semangatnya. Dengan kesederhanaan seorang misionaris, ia menjangkau umat dari kampung ke kampung, meneguhkan iman mereka, membaptis anak-anak, memberkati keluarga, dan mendampingi masyarakat dalam berbagai situasi kehidupan.
Bagi banyak umat, Pater Jan Krol bukan sekadar pastor. Ia adalah sahabat, penasihat, dan figur kebapaan yang hadir dalam berbagai peristiwa penting kehidupan mereka.
Selama kurang lebih 37 tahun, ia mengabdikan dirinya di tanah Baipito. Waktu yang panjang itu membuat hubungan antara dirinya dan umat melampaui batas seorang misionaris dengan daerah tugasnya. Baipito bukan lagi sekadar tempat pelayanan, melainkan rumah kedua yang menyimpan begitu banyak kenangan dan kisah pengabdian.
Pada tahun 1977, setelah puluhan tahun melayani, Pater Jan Krol akhirnya kembali ke Belanda. Perpisahan itu tentu bukan perkara mudah bagi umat yang telah mengenalnya begitu lama. Namun benih iman yang ditanamnya telah tumbuh dan berakar kuat di tengah masyarakat.
Dua belas tahun kemudian, tepat pada 17 Mei 1989, Pater Jan Krol menghembuskan napas terakhirnya dan dimakamkan di Teteringen, Belanda, tempat yang juga menjadi saksi awal panggilan imamatnya.
Meski jasadnya beristirahat ribuan kilometer dari Baipito, kisah hidupnya tidak pernah benar-benar pergi. Ia tetap hidup dalam cerita-cerita yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ia hidup dalam sejarah Paroki St. Yoseph Riangkemie, dalam keluarga-keluarga Katolik yang pernah disentuh pelayanannya, dan dalam iman umat yang terus berkembang hingga hari ini.
Mengenang Pater Jan Krol berarti mengenang sebuah generasi misionaris yang rela meninggalkan segala kenyamanan demi menghadirkan harapan di tempat yang jauh dari tanah kelahirannya. Mereka datang tanpa mengenal bahasa dan budaya setempat, tetapi pulang dengan membawa cinta dari umat yang mereka layani.
Pater Jan Krol datang ke Flores sebagai seorang misionaris. Namun dalam perjalanan waktu, ia menjadi bagian dari keluarga besar Baipito. Namanya tidak hanya tercatat dalam buku sejarah Gereja, tetapi juga tersimpan dalam hati banyak umat yang merasakan buah dari pengabdiannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar