![]() |
| Foto: Waton Bunga Retu |
Membaca kembali sejarah paroki selalu membawa kita pada refleksi iman yang mendalam. Di balik setiap gereja yang berdiri, setiap lonceng pagi minggu pagi yang berdentang, dan setiap umat yang berkumpul untuk berdoa, terdapat jejak para misionaris yang telah mengorbankan hidupnya demi menanamkan benih iman di tanah yang jauh dari kampung halamannya.
Ketika Pastor Jan Krol, SVD mengakhiri masa pelayanannya di wilayah Baipito pada tahun 1977 dan kembali ke Belanda, umat Katolik di Paroki St. Yoseph Riangkemie memasuki babak baru perjalanan sejarahnya. Tongkat estafet pelayanan kemudian diteruskan oleh seorang misionaris asal Irlandia yang kelak dikenang dengan penuh kasih oleh umat: Pater Tom Cahill, SVD.
Tahun 1979 menjadi awal kehadiran Pater Tom di Baipito. Namun kedatangannya bukan pada masa yang mudah. Wilayah itu baru saja dilanda bencana banjir bandang yang mengubah kehidupan banyak keluarga. Salah satu dampak terbesar bencana tersebut adalah relokasi warga kampung Wailolong ke wilayah baru yang kini dikenal sebagai kampung Badu.
Di tengah suasana kehilangan, ketidakpastian, dan upaya membangun kehidupan baru, hadir seorang imam asing yang membawa harapan. Umat tidak mengenalnya sebagai Pater Tom Cahill. Mereka lebih akrab memanggilnya dengan sebutan sederhana namun penuh kehangatan: Tuan Tom.
Bagi masyarakat yang sedang memulai hidup dari nol di tanah relokasi, kehadiran Tuan Tom bukan hanya sebagai pelayan altar. Ia menjadi sahabat, penghibur, sekaligus peneguh iman. Dalam masa-masa sulit itu, ia menemani umat membangun kembali kehidupan rohani mereka, mengajarkan bahwa harapan tidak boleh hanyut bersama banjir yang pernah melanda kampung halaman mereka.
Bagi penulis, sosok Tuan Tom memiliki makna yang jauh lebih pribadi. Pada tahun 1982, ketika permukiman baru di Badu mulai bertumbuh, Tuan Tom membaptis sejumlah anak, termasuk penulis. Di atas tanah relokasi yang masih menyimpan kenangan pahit akibat bencana, sakramen baptis menjadi tanda kehidupan baru.
Tangan yang menuangkan air baptis di kepala anak-anak kecil saat itu mungkin tidak pernah membayangkan bahwa puluhan tahun kemudian, salah satu dari mereka akan mengenang peristiwa tersebut sebagai bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Namun begitulah cara karya para misionaris bekerja. Mereka menanam benih, sementara waktu yang membuatnya bertumbuh.
Pater Tom Cahill, SVD melayani umat Paroki St. Yoseph Riangkemie hingga tahun 1985. Enam tahun mungkin terdengar singkat dalam hitungan sejarah. Namun bagi umat yang pernah merasakan kehadirannya, masa pelayanan itu meninggalkan jejak yang panjang. Jejak itu hidup dalam kenangan umat, dalam keluarga-keluarga Katolik yang tetap setia pada imannya, dan dalam generasi yang lahir serta dibesarkan di tanah Baipito.
Kini, ketika sejarah paroki kembali dibaca dan dikenang, nama Tuan Tom hadir sebagai bagian penting dari perjalanan Gereja lokal. Ia datang dari negeri yang jauh, meninggalkan kenyamanan tanah kelahirannya, untuk hidup bersama umat sederhana di Flores. Ia berbagi suka dan duka, menyertai mereka melewati masa-masa sulit, dan menanamkan benih iman yang terus berbuah hingga hari ini.
Sejarah paroki bukan sekadar catatan tahun dan pergantian pastor. Sejarah paroki adalah kisah manusia-manusia yang dipanggil untuk melayani dan umat yang disentuh oleh pelayanan itu. Di antara halaman-halaman sejarah tersebut, nama Pater Tom Cahill, SVD tetap terukir sebagai bagian dari kisah iman masyarakat Baipito.
Dari tanah Lamaholot, hormat dan doa kami selalu menyertai para misionaris yang telah mengorbankan hidupnya demi mewartakan Injil. Mereka mungkin telah pergi, tetapi warisan iman yang mereka tinggalkan akan terus hidup dari generasi ke generasi. (Teks: Waton Bunga Retu)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar